.

Sekedar blog kumpulan beragam catatan... anda bisa kirim artikel dan semacamnya ke email: tianfu_kwok@gmail.com

16 Februari 2011

Terbangun Dari Mimpi

Hal sama, bila terjadi pada orang yang berbeda mungkin akan timbul perasaan dan cara menghadapi yang berbeda pula.

Manusia dalam menghadapi kemiskinan, ada yang mengeluh, ada yang mencuri atau merampok, ada pula yang berpikiran ingin mengubah situasi keadaan melalui usaha keras diri sendiri, juga ada pula yang menghadapi masalah kemiskinan dengan tenang tanpa merasa was-was.


Demikian pula cara manusia menghadapi harta kekayaan, ada yang mengeluarkan uang tanpa kendali demi kenikmatan, ada yang mempersiapkan demi anak cucu, ada pula yang berpikiran menggunakan harta itu untuk mencari kekayaan yang lebih banyak lagi, namun ada pula orang yang menghadapi harta kekayaan itu dengan sikap yang hambar dan dingin.

Kadangkala kita merasa kehidupan ini bagaikan selembar kertas ujian, setelah dibagikan, maka tergantung diri sendiri bagaimana menjawabnya.

----

Jika diamati, kehidupan ini bagaikan sebuah teka-teki, tidak jelas diri kita ini datang dari mana, dan akan pergi kemana.

Yang bisa diketahui, perilaku kita bisa mempengaruhi orang lain, bisa membawa kegembiraan atau kesengsaraan bagi orang lain. Perilaku kita juga bisa mempengaruhi diri kita pada masa mendatang, jika bukan pengaruh positif, pasti pengaruh negatif. Dengan kata lain dikatakan, “Menanam labu menghasilkan labu, menanam kacang menghasilkan kacang.”

Tentu saja ada hal-hal tertentu tidak bisa menampakkan pengaruhnya pada saat itu juga, setelah lewat beberapa tahun kemudian, ada yang baru dapat terefleksi pada kehidupan mendatang.

Orang zaman dahulu mengatakan, “Benda yang tidak Anda inginkan, jangan diberikan kepada orang lain.” Jika kata-kata tersebut bisa terpikirkan, maka dari lubuk hati kita yang terdalam, kita akan bisa lebih memahami dan bertoleran terhadap orang lain. Hal ini bermanfaat baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Dengan kata lain, kita akan mendapatkan balasan kebajikan.

----

Seandainya saja kita bisa mempunyai cara untuk melepaskan diri dari kesengsaraan dan kemalangan, betapa enaknya hidup ini!

Zaman dahulu Sakyamuni lahir sebagai seorang anak raja, mempunyai kejayaan yang tidak akan habis dinikmati. Tetapi yang terlihat oleh dirinya adalah menua, kemiskinan, penyakit dan kematian, maka dia berpikir untuk melepaskan diri dari kesengsaraan ber-reinkarnasi.

Hal serupa terjadi dalam perjalanan hidup ini. Saat masih kecil semua yang kita lakukan demi orang tua, belajar demi menuntut ilmu, setelah dewasa demi perkawinan, setelah berkeluarga demi anak-anak, demi kelangsungan hidup ini, demi perasaan hati kita bekerja keras membanting tulang. Didalam kehidupan ini terdapat kegembiraan juga terkadang merasakan kesedihan dan ketidak berdayaan yang begitu banyak serta penyesalan yang selamanya tidak bisa terhapuskan.

Mungkin setelah mengalami liku-liku kegagalan hidup yang bertubi-tubi, jiwa kita sudah berubah menjadi agak apatis, sudah tidak begitu mengharapkan.

Bisa jadi pada suatu hari nanti, tiba-tiba kita mendapatkan ternyata hidup itu bisa memiliki keindahan, kehidupan itu bisa mencapai keabadian.

Itulah yang disebut dengan berkultivasi.

----

Yang selalu dinanti-nantikan dalam kehidupan ini, kemungkinan adalah hari dimana kita terbangun dari mimpi panjang kita.

Yang bisa membawakan keindahan yang sebenarnya dalam kehidupan kita ini, kemungkinan justru berada disamping kita.

Teringat syair dalam sebuah lagu berbahasa mandarin, yang artinya sebagai berikut:

Dalam langit dan bumi luas tak terhingga, siapakah diri saya,
Tak ingat lagi telah berapa kali berinkarnasi.
Dalam kesengsaraan dan kesulitan,
diri tersesat dalam ketidak berdayaan,
Hati yang penuh dambaan ini
begitu letih dan lelah,
Di dalam kegelapan malam
air mata yang mengalir adalah
air mata yang telah mengalami pahit getir kehidupan.
Terus menerus demikian
sampai saat saya melihat fakta sebenarnya...
Saya telah mengerti
siapa sebenarnya diri saya,
Saya juga telah paham
di atas jalan menuju “Dewa”
harus berusaha keras terus mengejar.

(www.epochtimes.co.id)